Senin, 26 Mei 2014

Puisi-puisi: Kinanthi Anggraini


SEPUCUK ANGIN MERAH

darah terserap sejarah
menatap ruh yang mengawang-awang berkeramas
di telapak senja. langit mengeropos dalam batin
meneriakkan himne bagi rasa maaf yang gemetar

menyambut kunjungan kasur hitam
yang lama memeram rintik-rintik hujan dengan
rumput yang semakin meninggi. mengetarkan mata
air yang sudi memapah getir

sementara malam terus menerus dikuliti oleh
kembang mungil yang terbawa oleh badai
sementara bungabunga tidur mengkristalkan api
di dagu perawan yang menjahit benih di kebun hati

tatkala malam merendah, dan matahari memerah.
Magetan, 11 Mei 2014

BUNGA-BUNGA BUNUH DIRI DI BABYLONIA

lingkar cahaya yang dibasuh sungai euphrates
berpendar derita di atas semarak pujian himne lagu
kidungku bersembunyi di getar nada penggoyah desah bayi
anak malam yang telah nyenyak dalam hunian makam
seperti menyatukan debur ombak dan burung malam
sembari meremas jantung yang peka dan mata yang utuh
menjaga bagian-bagianya yang telah meruntuh

berdiam diantara bilik paru, meminum darah sendiri
pada pusara debu yang beralih emas. penghargaan abadi
serupa pohon yang tumbuh pada dahan, berdusta makna
menista rahasia pinggul berwajah memikat. menjelajahi
kata di sekujur rahana perawan berwarna pekat. tertikam belati
cinta di sepanjang syair wangi
telah dikafani oleh kematian dengan kerlap-kerlip patung berapi
berderai sudah keabadian busuk berbisik pada anak pelangi
pada rintih cabang pohon
dengan hati mengkerut yang melahirkan kematian
dan hidup seperti mayat-mayat

tertimbun di tujuh lembaran retak tanah liat
besanding ingatan dalam kelopak yang tersisa,
untuk tumbal marduk yang mulia semesta raya
digantung oleh kasarnya tali nebuchadnezzar
daun-daun merelakan matahari mengeringkan kulitnya

di kolam manis dan hati yang lapar, bunga Laurel
menggulung ke surga dalam lamunan taman sutra.
Magetan, 2 Mei 2014


MUSIM PELANGI HITAM

desiran udara dalam nafas senantiasa tercipta
dalam palung senja seluas segara. yang tak melupa
lihatlah sang waktu yang begitu kejam merajam
meninggalkan wajah yang berpaling tajam
keadaan jiwa tak dirasa hati. tetap melangkah
dan bergegas untuk pergi. pada rahasia dimensi
lekat diingat, mendaging di urat nadi

barangkali hara semakin lara
bergerimis di kabut yang tak kunjung mereda
membuang kertas usang bernyawa. yang terganti
langit karam pada desiran darah dari sungai langit
yang melimpah
hangat hijau daun dan kuning jagad bersumpah
berpagar bidadari yang sedang mandi suara
berbalut gerimis yang ketat menjaganya

inilah musim pelangi
dimana kekelaman mendawaikan selaput bumi
saat bulan berbantal bunga-bunga kasturi
bersama hujan yang menumbuhkan akar mati

di tanah yang menumbuhkan rindu kembali
berteman warna kuas yang lekas berganti.
 Magetan, 24 Januari 2014

Tentang Penulis :

KINANTHI ANGGRAINI.
Lahir di Magetan, 17 Januari 1990. Menulis puisi dan reportase. Karya puisinya pernah dimuat di puluhan media massa antara lain: Indopos, Jurnal Masterpoem Indonesia, Banjarmasin Post, Lampung Post, Tanjungpinang Pos, Sumut Pos, Sriwijaya Post, Suara Merdeka, Solo Pos, Pikiran Rakyat, Koran Haluan, Pos Bali, Metro Riau, Majalah Sagang, Majalah Ekspresi, Joglo Semar, Buletin Jejak , Harian Mata Banua, Tabloid Hayati, Medan Bisnis, Kenthingan, dan lain-lain.
Juga dimuat dalam buku Antologi Merawat Ingatan Rahim (2013), Kisah yang Berulang di Hari Minggu (2014), Solo Menulis Puisi (2014), Timur Gumregah (2014), Negeri Poci 5 (2014). Mahasiswi Pascasarjana Pendidikan Sains, UNS Solo ini juga pernah menjadi model Hijab Moshaict tahun 2011.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar