Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Agustus 2014

Ahad, 03 Agustus 2014



Cerpen: Anam Khoirul Anam
Negeri Para Penyamun


LELAKI bertubuh tambun itu luruh ke lantai setelah tiga butir peluru bersarang ke dalam tubuhnya. Ia ambruk dengan kedua tangan terikat tali di belakang. Mulutnya masih dililit sehelai kain putih berlumuran darah dari bibir dan juga mulutnya akibat bogem popor senjata laras panjang. Ia disiksa sebelum darahnya muncrat ketika butir peluru menghujam dada sebelah kiri, lalu disusul dua peluru di bahu dan lengan kirinya. Ia mengerang bercampur desis menahan rasa sakit tak terikira. Tersengal-sengal. Bersimbah darah. Darah itu menggenang, menelusur pada garis-garis lantai dan menyisakan bercak-bercak merah saga. Ia pun gagal mengucapkan patah kata terakhir sekalipun sebatas isyarat sebab nyawanya lebih dulu meregang dari jasad. Ia telah sampai pada ajalnya.
“Ia sudah mati?” tanya Habail pada rekannya. Tergesa ia pegang tubuh lelaki tambun itu lalu mengarahkan telapak tangannya ke arah hidung untuk memastikan apakah masih ada embus nafas atau tidak. Tak ada lagi nafas mengembus. Tak terdengar detak jantung atau tubuh gemetar. Tubuh itu dingin.
Sementara penembak itu masih berdiri mematung dengan tangan gemetar setelah melesakkan tiga butir peluru hingga menewaskan seseorang yang sama sekali tak dikenalinya. Ia telah menghabisi nyawa seseorang dalam hitungan menit. Ini adalah kali pertama ia menjadi seorang pembunuh. “Entahlah?” hanya kata-kata itu yang keluar dari mulutnya sebagai jawaban. Ia masih tak percaya dengan apa yang telah dilakukan beberapa menit lalu. Mulanya, ia benar-benar ragu, namun karena terdesak, ia pun menarik pelatuk pistol tersebut hingga melahirkan bunyi desing bercampur suara ledakan peluru yang keluar dari moncong pistol tersebut. Saking tak percaya pada apa yang baru saja terjadi, ia masih berdiri kaku seperti posisi orang yang sedang melakukan gerakan kuda-kuda dalam ilmu persilatan. Kedua tangannya masih mengacung ke depan sembari memegang pistol begitu kuat. Ia merasakan aliran darahnya mengalir deras. Ada desir mengalir sampai ubun-ubun.
“Ia sudah mati. Ini bayaranmu!” kata Pak Bos yang duduk di atas kursi goyang. Asap putih mengepul dari mulutnya. Sebatang cerutu baru seperempat ia hisap. Ia ambil beberapa ikat uang dari koper. Ia lemparkan beberapa ikat uang itu pada pembunuh bayaran yang duduk di sampingnya. “Pergilah! Ingat, jangan sampai hal ini diketahui orang banyak. Tutup mulutmu! Jika tidak, aku habisi hidupmu, bahkan jika perlu seluruh keluargamu sekaligus. Jangan berbuat macam-macam, sebab aku punya ‘kaki-tangan’ yang akan memata-matai gerak-gerikmu di luar sana. Jika aku membutuhkanmu, akan kuhubungi nanti. Tak perlu takut. Apa yang kamu lakukan ini takkan dilaporkan ke pihak berwajib. Ini urusanku dan tanggungjawabku. Urusanmu sudah selesai sampai di sini. Silakan pergi dan bawa upahmu!”
Ia mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Ia pergi berlalu dari hadapan Pak Bos dan juga anak buahnya. Ya, ia masih pemula jadi pembunuh bayaran. Ia masih amatir. Ini adalah kali pertama baginya, dan hal itu ia lakukan karena terpaksa.
Ia hitung uang itu. Uang itu lebih dari cukup untuk dijadikan tebusan, bahkan cukup untuk melunasi utang-utangnya.
Sama sekali tak ada niat baginya menjadi seorang pembunuh, namun karena desakan hidup yang datang bertubi-tubi, didukung dengan situasi dan kondisi yang cukup mendesak, ia pun memilih jalan pintas. Memang masih ada pilihan lain selain menjadi seorang pembunuh. Masih ada pekerjaan lain selain membunuh. Namun waktu tak bisa menunggu. Ia butuh uang secara cepat. Segera dan sesegera mungkin. Esok ia harus membayar tebusan Rumah Sakit jika ingin anak istrinya pulang ke rumah. Ia tak ingin berlama-lama berurusan dengan instansi tertentu, terlebih jika hal itu ada kaitan dengan keuangan. Bukankah semakin lama istri dan anaknya ditahan di dalamnya, maka akan semakin banyak biaya yang dikeluarkan untuk menebusnya? Ia memang masih memiliki orang tua, sanak saudara, atau teman yang mungkin bisa dipinjami uangnya. Namun tidak! Ia tak mau melakukan itu lagi. Ia trauma dengan urusan pinjam meminjam. Ia pernah dipermalukan bahkan diremehkan oleh orangtuanya sendiri karena pinjam uang pada adiknya sendiri, “Kerjamu selama ini hasilnya apa? Bertahun-tahun kerja tak kelihatan hasilnya. Lihat adikmu! Dia sekarang sudah punya rumah. Sudah punya mobil. Dan sebentar lagi akan membuka cabang usahanya di berbagai kota.” Kata-kata itu benar-benar menyulut kepedihan dalam hatinya. Ia tahan rasa sakit dalam dadanya. Ia mencoba bersabar atas sikap yang selama ini ditunjukkan padanya. Selama ini ia selalu mengalah. Selalu saja ia dibanding-bandingkan dengan orang lain, terutama dengan adiknya. Ia tak terima, tapi tak dapat mengelak untuk menerima. Rasa sakit yang ia pendam dan redam tak berhenti sampai di situ. Adik kandung yang ia kira tulus membantu justru melontarkan kata-kata yang juga tak kalah menyakitkan, “Aku malu pada suamiku. Sudah berapa tahun uang itu tak segera dikembalikan. Kalau memang sudah punya uang, segeralah kembalikan, jangan hanya diam seeneknya sendiri. Kerja bertahun-tahun tak jelas hasilnya. Memangnya uang hasil kerjamu untuk apa?” Ya, kata-kata itu dilontarkan adiknya setahun setelah ia diremehkan oleh sebagian besar keluarganya sendiri. Ia dipandang oleh sebagian keluarganya terlalu merepotkan dan hanya bisa menyusahkan keluarga. Berawal dari itulah ia merasa tak perlu lagi berbagi beban hidup dengan keluarganya. Berawal dari itu pula ia berusaha menyelesaikan masalah-masalah hidupnya sendiri. Sayangnya, meski sudah berupaya hidup mandiri, tanpa mengharap belas kasih dari keluarganya, tetap saja ia masih diremehkan.
Akhirnya, pada satu titik tertentu, ketika dirinya dihadapkan pada persoalan pelik dan sangat mendesak, ia pun memilih tawaran menjadi seorang pembunuh bayaran dari seseorang yang baru saja ia kenal. Perkenalan itu terjadi begitu cepat. Awal mulanya pada suatu hari ia menulis di akun jejaring sosial pribadinya. “Aku butuh pekerjaan. Aku butuh uang cepat untuk operasi persalinan istirku.” Begitu ia menulis. Lalu ada beberapa orang mengomentari dan ada beberapa orang menawari pekerjaan. Ada yang menawari menjadi angen penjual produk tertentu. Ada yang menawari kerja di pabrik, dan lain sebagainya. Namun setelah dipikir-pikir pekerjaan yang ditawarkan membutuhkan waktu cukup lama untuk bisa menghasilkan uang banyak secara cepat dan singkat. Ia harus menebus biaya operasi persalinan istrinya dalam waktu dekat. Menghasilkan uang sepuluh juta dalam sehari tentu bukan perkara mudah. Di lain sisi, ia tak punya jaminan untuk berutang ke Bank atau ke pihak lainnya. Tak ada barang yang bisa ia gadaikan. Satu-satunya sepeda motor yang ia pergunakan untuk kerja pun jika dijual takkan cukup untuk tebusan. Pinjam pada teman-temannya belum tentu ada dan sudi meminjami. Tentunya, ia tak ingin pinjam lagi pada saudaranya, pasalnya pinjaman yang pertama belum ia bayar hingga kini, padahal adiknya sudah berulangkali menagih. Selain merasa malu, ia juga merasa dipermalukan. “Saudara itu orangnya, tapi tidak untuk uangnya.” Begitu kata salah satu rekannya, dan memang benar bahwa saudara itu hanya orangnya, tapi bukan untuk harta bendanya.
Ya, ditengah-tengah situasi yang kalut semacam itu tak ada pilihan lain selain mencari cara dan jalan lain agar anak istirnya bisa segera keluar dari Rumah Sakit. Beberapa hari kemudian, ada seseorang menelepon. Nomor baru dan tentunya ia tak tahu ataupun mengenalnya. Setelah berbicara panjang lebar lelaki itu menawari pekerjaan padanya.
Saya ada pekerjaan dan kemungkinan besar akan lebih cepat membantu menyelesaikan masalah yang sedang Anda hadapi,” begitu kata lelaki di seberang sana dengan suara agak serak.
“Pekerjaan apa itu?”
Kita ketemu saja. Nanti saya jelaskan tentang pekerjaan ini.”
Awalnya ia ragu, namun mengingat waktu yang terus bergulir dan ia tak ingin berlama-lama tenggelam dalam masalah, akhirnya ia menemui penelepon tersebut. Dan pada akhirnya dari pekerjaan itu pula ia berhasil membawa uang tebusan sekali pun dengan cara yang salah besar.
Entahlah? Hanya itu yang ada dalam pikirannya. Mendapat uang sebagai tebusan biaya persalinan.
Ia tak tahu apakah menjadi anak durhaka atau tidak. Pasalnya, ia tak memberi kabar pada orangtuanya perihal kelahiran anaknya itu. Ia sudah terlanjur sakit hati atas sikap dan perilaku yang ditunjukkan serta diberikan padanya selama ini. Akibat rasa sakit hati yang ia rasakan, lebih dari sepuluh tahun ia tak pulang kampung, bahkan nyaris tak memberi kabar. Ia merasa lebih aman dan nyaman ketika jauh dari keluarganya. Selalu saja ada hal-hal menyakitkan ketika berkumpul dengan keluarganya. Keluarganya terlalu cerewet, suka ikut campur, dan terlalu dalam mengorek urusan pribadi, bahkan kalau perlu ia pakai celana dalam pun akan ditanyakan darimana asalnya atau dengan uang siapa membelinya. Hal itu benar-benar sudah kelewat batas baginya. Jangan salahkan jika pada akhirnya ia memutuskan angkat kaki dari rumah untuk meredam rasa sakit hatinya. Lebih baik menjauh daripada dekat akan tetapi justru tak mendapat perlakuan secara semestinya. Justru setelah ia berada jauh dari keluarganya membuat dirinya lebih mandiri dan merasa tak diintimidasi oleh keluarga sendiri. Jika harus bertanya pada hati nuraninya, tentu ia tak ingin berbuat atau bersikap demikian terhadap keluarga, terutama orangtuanya. “Apa salah dan dosaku hingga aku diperlakukan seperti ini? Bukankah aku anaknya, bukankah aku juga keluarganya, darah dagingnya? Mengapa aku selalu saja diperlakukan sedemikian menyakitkan?” batinnya.

***
ENTAH iblis mana yang berhasil menghasut dirinya sampai-sampai ia memilih menjadi pembunuh bayaran daripada menjadi pekerja atau pengusaha lainnya. Ia berpikir itu adalah cara tercepat untuk menunjukkan kemampuan di hadapan keluarganya. Ia ingin sesegera mungkin mengobati rasa sakit hatinya. Ia sudah tak tahan mendengar cibiran, kata-kata nyinyir, bahkan sikap merendahkan yang ditunjukkan padanya. Selain keterlaluan dan sangat berlebihan, tak sepantasnya orang tua berbuat demikian pada anaknya. Sebuas-buasnya harimau, ia masih melindungi anaknya dari malabahaya. Jujur, ia tak ingin balas dendam, ia hanya ingin mengakhiri rasa sakit di dadanya yang sudah sejak sekian lama ditahan. Ia paham betul bagaimana sifat atau watak orangtuanya, mereka hanya ingin bukti bukan sekedar omong kosong belaka.
Ia kembali menghubungi Pak Bos dan menyatakan diri untuk ikut kerja bersamanya. Tanpa menuai kendala, ia pun dinyatakan telah bergabung dalam komplotan pembunuh bayaran alias menjadi anak buah Pak Bos. Awalnya canggung, lambat laun tak hanya jadi amatir melainkan sangat profesional. Dari pekerjaan itu, ia mendapatkan bayaran cukup besar. Pekerjaan itu tentu menjadi rahasia dirinya. Istrinya tak tahu, apa lagi keluarganya. Istrinya hanya tahu kalau tiap pagi ia pergi kerja ke kantor walau kadang pulang tak pasti, bahkan tak pulang selama beberapa hari.
Tak ayal dari usahanya itu ia bisa membeli rumah, membeli mobil, dan apa saja yang diinginkan. Perubahan itu pun berdampak pada sikap kedua orangtuanya. Mereka berubah pikiran, semula mencibir sekarang berubah pandangan dan anggapan bahwa anaknya sudah tajir. Dulu dianggap kere karena tinggal di kontrakan, sekarang tinggal di rumah gedongan. Dulu dengan nada sinis, sekarang bertutur kata manis. Padahal mereka tak tahu jika anak yang sekarang disanjungpuji adalah seorang pembunuh bayaran.
Tahun 1998 ia terlibat dalam aksi perampokan. Karena sudah dilatih dan terlatih ia pun dengan mulus membobol Bank. Merampok toko. Menjarah pusat perbelanjaan, dan beragam modus kejahatan lainnya. Dari pembunuhan secara manis sampai dengan pembunuhan secara sadis telah dilakukannya. Dari menggunakan alat sederhana yang tumpul sampai menggunakan alat paling tajam dan mengadung racun berbahaya. Dari senjata api sampai setrum berteganggan tinggi. Semua sudah ia lakukan. Perilaku keji itu pun dipuji oleh Pak Bos yang menjuluki dirinya pembunuh paling kejam di dunia. Sang Predator. Semua ia lakukan secara rapi dan nyaris tanpa gagal. Ya, karena selalu berhasil, sampai detik itu namanya masih bersih di mata istirnya maupun keluarga besarnya. Ia begitu cerdik dan pandai menyimpan rahasia. Dari usaha yang selama ini sudah dilakukan, ia melihat kebahagiaan di wajah-wajah keluarganya, namun ada rasa pilu bercampur sakit kian kelu di dadanya. Ia menelan senyum asam yang kemudian berubah getir dan pahit. Ia tak mampu mendustai rasa pilu yang menohok dadanya.

***
BARANGKALI Tuhan tidak ingin membiarkan kejahatan terlalu lama merajalela di muka bumi. Tentunya, Alam juga tidak ingin berlama-lama memutuskan ketetapan hukumnya. Kejahatan apapun pasti akan menuai hasilnya. Kejahatan apapun akan sampai pada ujungnya. Bangkai yang terlalu lama ditimbun pasti akan tercium pula bau busuknya.
Suatu hari ia lupa menaruh pistolnya di tempat biasa; tempat di mana ia biasa menyembunyikan benda berbahaya itu dari jangkauan siapapun. Kecerobohan dan keteledoran itu merupakan awal tersingkapnya tabir rahasia yang sudah ia tutupi selama kurang lebih dua puluh tahun. Lebih mengejutkan lagi, senjata itu ditemukan oleh anak ragilnya yang baru berumur 3 tahun. Pistol itu pun dibuat mainan. Mungkin karena terinspirasi dari film laga dari manca negara dan juga banyaknya mainan serupa, anak itu menarik pelatuk pistol revolver tersebut seperti ketika ia sedang memainkan senjata mainannya. Dor…..bunyi itu pecah dalam ruangan. Bunyi itu bergema. Biji peluru itu memantul dari tembok dan bersarang di kepala ayahnya yang sedang menonton televise. Meildar Saah—si pembunuh bayaran terkeji se-dunia, si Predator, tewas seketika di atas kursi sofa. Dan sore itu adalah akhir cerita bagi sang Predator yang ternyata sudah menjadi Daftar Pencarian Orang (DPO) dari Dalam Negeri maupun dari Luar Negeri.
Tak ayal jika Meildar Saah yang dikenal baik, pendiam, dan suka menolong atau memberi itu adalah seorang pembunuh bayaran kelas kakap. Siapa nyana di balik penampilannya yang ramah itu ada rahasia besar disembunyikan. Bermula dari senjata yang kali pertama ia pergunakan untuk membunuh—dan kini menjadi senjata makan tuan—adalah awal penyidikan demi penyidikan dari pihak Kepolisian. Perlahan, dari hasil investigasi membuahkan hasil yang menyatakan bahwa Meildar Saah telah terlibat dalam banyak kasus pembunuhan, perampokan, dan aksi kejahatan lainnya. Tak hanya secara organisir tapi juga dilakukan di berbagai tempat, bahkan hampir ke berbagai belahan dunia. Satu kejahatan yang tak pernah dilakukannya adalah kejahatan seksual. Selama menjadi pembunuh bayaran ia pantang melakukan tindak kejahatan seksual. Padahal jika ia mau melakukannya, bukan merupakan sesuatu hal mustahil baginya. Tapi tidak! Ia tidak mau melakukan hal itu. Apa alasannya, tentu Meildar Saah yang lebih mengetahui. Barangkali ia tak ingin menghianati istirnya. Ia hanya jahat secara perilaku, tapi dalam hal cinta ia tak ingin menjadi penjahat ataupun penghianat.
Berawal dari kematian Meildar Saah itu pula terungkap jaringan-jaringan yang pernah terlibat di dalamnya. Sayangnya, proses pengusutan itu berhenti sampai di tengah, tak sampai puncak atau sampai ke akar-akarnya. Sama sekali tak tuntas. Investigasi itu tak sampai menyentuh wilayah kekuasaan Pak Bos yang telah membawa perjalanan Meildar Saah menjadi seorang pembunuh bayaran.
Kabar kematian Meildar Saah dengan begitu cepat menyebar ke seantero jagat. Tak hanya secara nasional, berita kematiannya juga tersiar sampai media internasional. Kabar berita kematiannya disiarkan oleh seluruh stasiun televisi lokal, nasional, dan juga internasional. Menjadi tajuk utama pemberitaan media massa. Menjadi topik pemberitaan di halaman paling depan dan paling atas. Menjadi perbincangan hangat di berbagai media-media lainnya. Apa yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang selama ini, pelan tapi pasti, satu demi satu, tindak kejahatan yang dilakukannya mulai terbongkar.
Apa yang perlu disesali dari kejadian itu? Mungkin hanya kekecewaan yang tersisa di hati keluarga Meildar Saah. Kalau pun ingin marah, rasanya juga percuma. Semua sudah terlanjur terjadi. Ikhlas? Mungkin bisa, tapi berat. Mungkin itu pula alasan Meildar Saah selalu tutup mulut jika ditanya perihal pekerjaannya lebih jauh atau lebih mendalam. Selain karena tak ingin diketahui, ia juga tak ingin keluarganya terlibat dalam kasus hukumnya. Bukankah ketika orang lain atau keluarganya tahu justru akan menyeret keluarganya ke dalam masalah pribadinya, dan tentunya jika ia bercerita pada keluarganya pasti akan dijadikan sebagai saksi atas tindak kejahatannya? Bukankah dengan ia bersikap diam tidak akan ada yang dijadikan saksi, sekali pun tetap saja akan menjadi saksi. Tutup mulut merupakan cara efektif baginya. Setidaknya cara itu tidak akan memberatkan keluarganya lebih jauh. Ia tak ingin keluarganya lantas menderita setelah semua keburukan yang ia simpan terkuak. Mungkin ia benar, tapi tetap saja keliru. Bisa saja setelah meninggal tidak akan terkena sangsi hukum, tapi tidak untuk hukum lainnya, termasuk cacat yang akan ia tinggalkan pada keluarganya. Bisa saja selepas kematiannya keluarga yang ditinggalkan akan divonis sebagai keluarga pembunuh, atau tuduhan-tuduhan lainnya. Mungkin anaknya akan diejek teman sebayanya sebagai anak dari seorang pembunuh. Atau mungkin tuduhan-tuduhan lain yang justru lebih berat dari apa yang ia pikirkan. Ia mungkin bisa menghidari hukum dan hukuman, tapi tidak untuk mereka yang ditinggalkan. Mungkin ia pandai, tapi bisa jadi ia adalah orang bodoh yang gegabah dalam bersikap. Ia adalah tupai yang jatuh di tempat yang salah.[] 

Minggu, 29 Juni 2014

Ahad, 29 Juni 2014

Cerpen: Umar Affiq

Sungai Darah



Ketika aku mengamati perut buncit Pakde, tiba-tiba pandanganku merembang. Gelombang hitam serupa terowongan berpusar kencang bagai topan. Kepalaku pening. Aku serasa terseret ke dalam pusaran itu. Gelap.

AKU tak tahu dimana diriku. Seperti mimpi, sepertinya juga bukan. Kubuka GPS smartphone, namun tak menunjukkan koordinat keberadaanku. Tak ada sinyal disini. Tapi semua nampak begitu akrab: pohon hijau, gunung kapur, sungai mengalir sampai ke laut dan orang-orang telanjang badan berbondong menuju pinggul sungai. Mereka mengambil air, mencuci, mandi, buang hajat dan ada pula yang mencari ikan.

Aku mencoba mendekati mereka, sekadar menanyakan dimana aku berada.

Baru berjarak sepuluh meter dari sungai itu, bau anyir menubruk hidungku. Tajam sekali. Kecurigaanku kian bulat saat aku berpapasan dengan seorang perempuan dari sungai. Tubuhnya berkilat-kilat. Merah. Anyir. Seperti aroma darah. Tangannya kanannya menggendong bak cucian, sedang tangan kirinya membawa jirigen kecil.

Seoalah paham atas keherananku, perempuan itu mengajakku duduk. Setelah aku duduk, ia lalu meletakkan bawaannya di atas rumput kering. Tanpa kuminta, ia langsung bersapa:

“Kisanak tak perlu kaget dengan sungai ini.” ucapnya kalem. ”Dari dulu, beginilah sungai ini. Oleh leluhur kami, sungai ini dinamai Sungai Darah.”

Aku memandang matanya, penuh binar cahaya. Tak seperti mata orang-orang yang kutahu menyembunyikan kebohongan.

“Apa?” aku seolah tak percaya. Mana mungkin pada zaman modern seperti ini ada sungai darah. Setahuku, itu hanya sepotong kisah dalam kitab cerita Musa melawan kelaliman Firaun yang ngotot tak mau percaya bahwa Musa adalah utusan Tuhan. Dan kalaupun ada, pasti itu hanya cerita rekaan sama halnya Blood Moon, bulan darah.

“Benar. Sungai Darah.” Perempuan itu ingin menyakinkanku bahwa yang ia katakan benar. Ia menumpahkan sedikit air dari jirigen kecil bawaannya pada telapak tangannya. Ia munjukkannya padaku.

“Benar. Ini darah.” aku mencolek genangan merah di telapak tangannya. Mencecap colekan tadi hanya untuk memastikan saja. Ternyata benar. Asin dan amis.

“Dari dulu, sungai ini mengalir dari hulu perut ketamakan seorang lelaki. Kami akrab menyebut lelaki itu Qatil.”

“Pakde?!”

Telingaku seolah tak yakin apa yang dikatakan perempuan itu. Darimana dia tahu nama Pakde, sedang di sungai ini hanya nampak perempuan saja?

“Mungkin saja. Kami menamai orang-orang seperti itu dengan sebutan Qatil.”

Barangkali perempuan itu punya ilmu terawang, sehingga apa yang kudesirkan—bagaimana sungai ini mengalir?—langsung ia beri jawaban.
“Sungai ini akan terus mengalir selama lelaki itu dan orang-orang sepertinya terus mengorbankan orang-orang di sekitarnya demi menambang kekayaan. Lalu orang-orang yang dikorbankan akan terlarung dari liang ruh sampai kesini. Sedang raganya telah dikuburkan atau barangkali dikremasi oleh keluarga yang ditinggalkannya.”
“Jadi, orang-orang yang dikorbankan mati begitu saja?”

“Tidak. Ruh mereka akan menjelma menjadi ikan-ikan yang berenang di sungai ini. sautu waktu sekali, lelaki yang kami panggil Qotil itu akan datang kemari, member makan ikan-ikan dengan kembang dan bebijian.”

“Kami tak akan pernah cemas, apalagi takut jikalau suatu waktu sungai ini akan kering. Meski kemarau meranjau tanah dimana-mana, menciptakan lobang dan retakan, sungai ini akan tetap mengalir. Deras seperti biasanya. Bahkan bisa jadi justru lebih deras dari sebelumnya.”

“Bagaimana mungkin itu terjadi? Itu sangat berlawanan dengan hukum daur air.”

“Tapi beginilah aturannya. Sebab, selama lelaki itu dan orang-orang sepertinya masih melarungkan korban, sungai ini akan istiqomah mengalir. Ikan-ikannya akan semakin banyak seiring banyaknya jumlah korban lelaki itu.”

Mendengar penjelasan perempuan itu, dadaku terasa sesak. Dan entahlah, darah tiba-tiba mengucur dari tubuhku. Mengalir dari tubuhku yang robek. Aku mengamatinya lamat-lamat, darahku mengalir ke sungai itu. Lalu gelap mengerjap.

Baru ketika cahaya tumpah ke retina, kudapati diriku telah mengambang di tubuh Sungai Darah. Aku masih bisa melihat perut buncit Pakde, sosok lelaki yang disebut-sebut oleh perempuan misterius Sungai Darah sebagai Qobil, hulu sungai atau sumber sungai ini.

Lelaki perut buncit itu, lewat tangannya ia melempariku kembang dan bebijian seperti kacang hijau. Aku berteriak-teriak memanggilnya. Melambai-lambainya. Meminta tolong untuk mengangkatku dari sungai yang amis ini. Tapi apa daya, aku baru sadar aku tak lagi punya tangan. Tak juga kaki. Hanya tubuhku yang penuh sisik.
Tuban-Juwana, 3 Mei 2014

Senin, 09 Juni 2014

Cerpen: Yusrina Sri Oktaviani.



Sognare
Bunga Kapuk

Mekah
PEREMPUAN mana yang sudi beranakkan perawan tua. Tiga perawan tua. Tentulah tiada. Apalagi dengan tiada bergelung di rahimnya anak lelaki. Tiada sesiapa yang akan menjadikan keluarganya dilirik orang, diperhitungkan dalam perundingan. Terutama kabilah Kilaab sendiri. Inilah akibatnya bila bukan sesiapa. Orang papa.
Sebagai empu, tidaklah kupinta menantu yang muluk-muluk betul. Cukuplah ia telaten berdagang dan gemar menggubah syair. Ai ai, Anakku dipinang seorang pujangga. Dengan begitu, tentulah pesirah enggan berpongah lagi. Seluruh cecunguk kabilah akan berebut menyalami. Memujamuji namanya, jua martabat keluargaku. Setumpuk kudapan disuguhkan. Ketiga anak perempuanku dilayani bak permaisuri. Kasidah-kasidah didendangkan tanpa lelah. Dihelat perayaan megah meriah. Ai, bersitumpuklah hayal dalam benakku.

***
“APA hal yang membuat katup matamu menghitam?” selidiknya. “Tidakkah Kau tidur dengan cukup?”
“Tidur, Tuan. Hanya saja dengan mata terbuka.”
Senyum tersimpul di bibirnya.
“Ai Fulan, tidaklah itu tidur namanya.” Kugaruk kepala yang tidak gatal sama sekali.
“Agaknya penembang kasidah itu menggelitik nalurimu, Anak muda.”
Umpama tukang tenung, tepat benar terkaannya. Bukan main, pikirku. Tentu saja wajahku gegas merona. Semua bermula di sana. Festival sastra di Zulmajaz.
“Putri ketiga Muhallik dari kabilah Kilaab adalah dia. Penembang kasidah.” Wajahku merona. Merona betul.
“Gubahlah syair, baru bercinta,” sambungnya.
Tatapannya tajam. Gigiku gemerutupan. Ragu menyelubungiku.
“Keluarga Muhallik telah terabaikan. Lama. Lama sekali. Lantaran miskin, anaknya perawan pula. Tiga perawan,” sirahnya.
“Maka gubahlah syair. Dapat bercinta, pun mendapat martabat.”
Ia segera meraih sebatang kayu yang mengiringi ayunan langkahnya. Gegas kususuli. Membuntuti punggung majikanku. Kami berjalan beriringan. Telapak kaki tak lagi melepuh oleh penat. Agaknya perjalanan tinggal sejengkal lagi. Menuju Majnah. Kabarnya penyair ternama akan bertandang. Al A’sya.
Selain Zulmajaz, Majnah dan Ukadz pun menggelar festival serupa. Selama dua puluh hari dihelat. Mencari tujuh kasidah syair terbaik. Konon, kelak akan digantung di dinding bangunan segi empat yang dahulu kala dibangun Ibrahim dan putranya. Ka’bah, begitu mereka menyebutnya. Selepas ditulisi dengan tinta emas di atas kain sutra. Di samping Latta dan Uzza. Sesembahan seisi kota.

***
SEBAGAIMANA kedua kakakku. Tiadalah yang lain inginku. Selain dipinang seorang bujang. Tiada yang lain. Pendatang pun tak apa. Asal ada. Asal suka. Asal ia bersedia. Pun rela kuterima. Cuping telingaku resah sudah oleh tudingan tetangga. Telunjuk teracung ke muka. Hina dibuatnya. Sejak kami didapati sebagai perempuan. Bukan pasukan. Bukan pencabut pedang. Bukan pejuang. Hanya pemukul gendang. Penari. Pelantun kasidah. Bukan penggubahnya. Bukan. Hanya perempuan. Tiga perempuan. Perawan. Dari rahim perempuan papa. Dari air mani lelaki tak berpunya.
Tiadalah yang lain inginku. Selain dipinang seorang bujang. Bukan anting-anting. Bukan gubahan syair. Bukan gundukan jamuan. Bukan setumpuk nampan sesak dengan kudapan. Bukan. Tiada yang lain. Selain pinangan. Pendatang pun tak apa. Asal ada. Asal suka. Asal ia bersedia.

***
KUDENGAR Al A’sya akan ke bertandang. Seisi kota riuh membicarakannya. Tak sedikit yang memuja. Adalah perkara biasa bagi pujangga yang selalu meraup kemenangan bilamana festival dihelat. Selalu ada bait syairnya yang menggelayuti dinding Ka’bah. Setiap tahun. Sekian tahun lamanya. Ah, untunglah bila benar ia akan bertandang. Ke Majnah kabarnya.
Sudah lama niat ini bergelung dalam dada. Kusimpan rapatrapat. Bahkan dari Muhallik, suamiku. Takut ia menolak. Enggan. Apalagi ini mengenai harta terakhir yang dimilikinya. Unta jantan. Ah, bukan masalah. Demi ketiga putrinya. Tiada perlu menjadi perawan lebih lama.
Kudengar Al A’sya akan bertandang. Dada bergemuruh riuh menghitung hari berlalu. Ah, sedikit lagi. Sebagai empu, inilah dayaku satusatunya. Setelah sekian lama.

***
“KAU mesti mengikuti kompetisi,” titahnya. Aku terkesiap. Terkejut.
“Gubahlah syair.”
“Tidak adakah cara lain, Tuan?” ia menggeleng. Tegas.
“Walau syairmu tidak terpilih. Kau tetap terhormat. Sebagai penggubah syair. Luluhlah hati seisi kota. Kau akan dibangga. Haa, luluh jualah hati si putri Muhallik,” cetusnya. Aku mangut.
“Ajari aku, Tuan,” pintaku setengah merengek.
Kulihat air mukanya keruh. Menatapku lama. Nanar. Lalu, mencair. Jernih. Bersih. Aku pun semringah. Lelaki tua itu mengulum tawanya.

***
SECARIK perkamen kuterima. Ditulisi tinta hitam pekat beraroma pahit. Itu tidak menarik perhatianku. Selain aksara yang berjejer di sana.
Jikalaulah mentari hendak membelah remang-remang mimpi yang mengatup. Adalah hal baik bilamana kupinang dahulu bundarnya purnama. Biar malam kepanjangan. Agar mimpi berkelanjutan.
Siapa gerangan yang menuliskannya? Indah nian. Apa hal yang menjadikanku sebagai penerima syair ini? Ah, sibuklah diriku menerka-nerka.
Di tepi bawah, kudapati sebaris kata. Agaknya sebuah nama. Musafir. Kembali kurekareka. Nun, di ceruk dadaku. Ada selubung baru. Terdengar simponi merdu di dalamnya. Walau ragu. Kugamit perkamen, kusisipkan dalam lipatan baju. Berlalu.

***
ADALAH hal mesti bagiku untuk menemuinya. Segera. Kabarnya ia telah tiba. Sesegera mungkin kujumpai. Ya, benar. Ia tentu tak akan berlamalama. Sebaiknya kususul ia. Di pasar. Ya, benar. Mestinya ia melewati pasar. Tentu. Ya, aku yakin betul akan hal itu.
Mendengar kehadiran Al A’sya, beramairamailah seisi kota memadati jalan. Menyambut idola. Sekadar bertatapan, atau berjabatan atau sekadar turut serta bersoraksorai belaka. Hanya aku yang berniat lain.
Al A’sya terkesiap, mendapati seorang perempuan paruh baya menghadang jalannya. Ia telah melewati pasar. Kerumunan sudah tak membuntutinya lagi. Al A’sya pun meloncat turun dari tunggangannya. Hendak mengetahui niat perempuan tua di hadapannya.
“Bersediakah Tuan bilamana singgah sejenak ke gubuk kami? Ada jamuan yang sudah dipersiapkan,” terangku sedikit memohon.
“Apa gerangan yang membuatmu menjamuku?”
“Ah tidak, Tuan. Hanya saja, sudah lama niat ini kuurungkan.”
Kulihat ia menempelkan empu jari dan telunjuk di dagu. Seolah menimbang ragu. Sekejap ia menaiki unta. Gusar sedikit dadaku.
“Baiklah, aku akan datang. Nanti malam. Tiadalah patut menolak untung,” ujarnya sembari mengayunkan temali unta. Beranjak. Bukan kepalang berbunganya hatiku. Gegas kupulang. Menyiapkan jamuan. Juga mengabarkan suamiku untuk segera pulang.
Al A’sya akan melakukannya. Aku yakin betul. Esok seisi Mekah akan riuh. Aku terkekeh sendiri.

***
TIDAK hanya aku. Kedua kakakku pun turut terkesiap. Tak percaya. Al A’sya datang bertandang ke gubuk kecil kami yang teronggok di atas bukit.
Agaknya Ibu tahu alasannya. Itu tidak menarik sama sekali. Selain unta milik kami satusatunya mesti disembelih demi menjamu si tamu. Idola Mekah katanya. Meski kami menggerutu. Ibu tetap enggan bicara.
“Esok, Kau akan tahu,” bisik Ibu.
Sedangkan Al A’sya, agaknya juga turut bertanya-tanya. Perihal apa yang diinginkan keluarga Muhallik darinya. Perihal kedermawanan keluarga miskin itu. Unta jantan, harta paling berharga milik mereka rela disuguhkan sebagai jamuan.
Alangkah dermawannya, bisik batin Al A’sya.

***
SEISI kota riuh. Entah apa gerangan. Al A’sya melantunkan syair kemarin. Di kerumunan kabilah. Begitu kabarnya. Tidak tertarik sama sekali, gumamku.
“Syair itu tentang Muhallik dan kedermawanannya.” Telingaku berdiri mendengarkan ocehan majikanku.
“Seisi kota memperbincangkan hal serupa.”
“Bila Al A’sya saja berela hati menggubah syair tentang keluarga kecil itu, Kau tentu tahu betul apa dampaknya.”
Aku bungkam.
“Semua bujang sibuk. Berebut meminang ketiga putri Muhallik. Dari peladang hingga pedagang. Juga bangsawan, Anak muda.”
Mataku terbelalak. Darahku mendidih. Yang benar saja, bisikku.
Al A’sya, penyair Arab Jahiliyah yang sering kudapati namanya di berbagai buku kesusasteraan Arab, kini membuat perkara. Denganku. Benar. Perkara cinta.
“Aku tidak dapat tidur di malam hari, bukan karena sakit ataupun cinta.”
“Sungguh banyak mata yang melihat api yang menyala di atas bukit itu.”
“Api itu dinyalakan untuk menghangatkan tubuh kedua orang yang sedang kedinginan di malam itu dan di tempat itulah Muhallik dan kedermawanannya sedang bermalam.”
“Di malam yang gelap itu keduanya saling berjanji untuk tetap bersatu.”
“Kamu lihat kedermawanan di wajahnya seperti pedang yang berkilauan.”
“Kedua tangannya selalu benar, yang satu untuk membinasakan sedang yang lain untuk menderma.”[1]
Sayup kudengar syair itu dilantunkan. Dua biji mataku bergasing. Kepalaku linglung. Pusing. Perutku diadukaduk. Tubuhku limbung. Tersungkur. Memamah pepasiran. Tiada kutahu bising di sekitarku. Umpama dengingan ribuan nyamuk mendengung di liang telinga. Seketika buram. Pekat. Lesap. Lenyap dalam sekejap.
Kudapati diriku berbungkus kain sarung. Terjaga oleh lengkingan ketel mendesing. Dengan buku Sejarah Kesusasteraan Arab bergelung di tanganku. Matahari sudah menggeliat. Bangun dari rehat. Nun, di depan rumah susun tempat naunganku, jalanan Jakarta mulai padat. Dengan rambut kusut, kuingat-ingat hal semalam.
Jikalaulah mentari hendak membelah remang-remang mimpi yang mengatup. Adalah hal baik bilamana kupinang dahulu bundarnya purnama. Biar malam kepanjangan. Agar mimpi berkelanjutan.
Mimpi semalam masih terkenang.(*)
 Surau Balai, 2013

[1] Ini merupakan syair yang dilantunkan oleh Al A’sya (penyair Arab terkemuka) untuk mengabadikan kedermawanan Muhallik dan isterinya. Riwayat ini banyak dijelaskan dalam buku-buku kesusasteraan Arab Jahiliyah.

Yusrina Sri Oktaviani. Sedang kuliah di IAIN Imam Bonjol Padang pada Fakultas Tarbiyah dengan jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA). Menulis cerpen, puisi, novel, artikel dan opini.