Senin, 09 Juni 2014

Cerpen: Yusrina Sri Oktaviani.



Sognare
Bunga Kapuk

Mekah
PEREMPUAN mana yang sudi beranakkan perawan tua. Tiga perawan tua. Tentulah tiada. Apalagi dengan tiada bergelung di rahimnya anak lelaki. Tiada sesiapa yang akan menjadikan keluarganya dilirik orang, diperhitungkan dalam perundingan. Terutama kabilah Kilaab sendiri. Inilah akibatnya bila bukan sesiapa. Orang papa.
Sebagai empu, tidaklah kupinta menantu yang muluk-muluk betul. Cukuplah ia telaten berdagang dan gemar menggubah syair. Ai ai, Anakku dipinang seorang pujangga. Dengan begitu, tentulah pesirah enggan berpongah lagi. Seluruh cecunguk kabilah akan berebut menyalami. Memujamuji namanya, jua martabat keluargaku. Setumpuk kudapan disuguhkan. Ketiga anak perempuanku dilayani bak permaisuri. Kasidah-kasidah didendangkan tanpa lelah. Dihelat perayaan megah meriah. Ai, bersitumpuklah hayal dalam benakku.

***
“APA hal yang membuat katup matamu menghitam?” selidiknya. “Tidakkah Kau tidur dengan cukup?”
“Tidur, Tuan. Hanya saja dengan mata terbuka.”
Senyum tersimpul di bibirnya.
“Ai Fulan, tidaklah itu tidur namanya.” Kugaruk kepala yang tidak gatal sama sekali.
“Agaknya penembang kasidah itu menggelitik nalurimu, Anak muda.”
Umpama tukang tenung, tepat benar terkaannya. Bukan main, pikirku. Tentu saja wajahku gegas merona. Semua bermula di sana. Festival sastra di Zulmajaz.
“Putri ketiga Muhallik dari kabilah Kilaab adalah dia. Penembang kasidah.” Wajahku merona. Merona betul.
“Gubahlah syair, baru bercinta,” sambungnya.
Tatapannya tajam. Gigiku gemerutupan. Ragu menyelubungiku.
“Keluarga Muhallik telah terabaikan. Lama. Lama sekali. Lantaran miskin, anaknya perawan pula. Tiga perawan,” sirahnya.
“Maka gubahlah syair. Dapat bercinta, pun mendapat martabat.”
Ia segera meraih sebatang kayu yang mengiringi ayunan langkahnya. Gegas kususuli. Membuntuti punggung majikanku. Kami berjalan beriringan. Telapak kaki tak lagi melepuh oleh penat. Agaknya perjalanan tinggal sejengkal lagi. Menuju Majnah. Kabarnya penyair ternama akan bertandang. Al A’sya.
Selain Zulmajaz, Majnah dan Ukadz pun menggelar festival serupa. Selama dua puluh hari dihelat. Mencari tujuh kasidah syair terbaik. Konon, kelak akan digantung di dinding bangunan segi empat yang dahulu kala dibangun Ibrahim dan putranya. Ka’bah, begitu mereka menyebutnya. Selepas ditulisi dengan tinta emas di atas kain sutra. Di samping Latta dan Uzza. Sesembahan seisi kota.

***
SEBAGAIMANA kedua kakakku. Tiadalah yang lain inginku. Selain dipinang seorang bujang. Tiada yang lain. Pendatang pun tak apa. Asal ada. Asal suka. Asal ia bersedia. Pun rela kuterima. Cuping telingaku resah sudah oleh tudingan tetangga. Telunjuk teracung ke muka. Hina dibuatnya. Sejak kami didapati sebagai perempuan. Bukan pasukan. Bukan pencabut pedang. Bukan pejuang. Hanya pemukul gendang. Penari. Pelantun kasidah. Bukan penggubahnya. Bukan. Hanya perempuan. Tiga perempuan. Perawan. Dari rahim perempuan papa. Dari air mani lelaki tak berpunya.
Tiadalah yang lain inginku. Selain dipinang seorang bujang. Bukan anting-anting. Bukan gubahan syair. Bukan gundukan jamuan. Bukan setumpuk nampan sesak dengan kudapan. Bukan. Tiada yang lain. Selain pinangan. Pendatang pun tak apa. Asal ada. Asal suka. Asal ia bersedia.

***
KUDENGAR Al A’sya akan ke bertandang. Seisi kota riuh membicarakannya. Tak sedikit yang memuja. Adalah perkara biasa bagi pujangga yang selalu meraup kemenangan bilamana festival dihelat. Selalu ada bait syairnya yang menggelayuti dinding Ka’bah. Setiap tahun. Sekian tahun lamanya. Ah, untunglah bila benar ia akan bertandang. Ke Majnah kabarnya.
Sudah lama niat ini bergelung dalam dada. Kusimpan rapatrapat. Bahkan dari Muhallik, suamiku. Takut ia menolak. Enggan. Apalagi ini mengenai harta terakhir yang dimilikinya. Unta jantan. Ah, bukan masalah. Demi ketiga putrinya. Tiada perlu menjadi perawan lebih lama.
Kudengar Al A’sya akan bertandang. Dada bergemuruh riuh menghitung hari berlalu. Ah, sedikit lagi. Sebagai empu, inilah dayaku satusatunya. Setelah sekian lama.

***
“KAU mesti mengikuti kompetisi,” titahnya. Aku terkesiap. Terkejut.
“Gubahlah syair.”
“Tidak adakah cara lain, Tuan?” ia menggeleng. Tegas.
“Walau syairmu tidak terpilih. Kau tetap terhormat. Sebagai penggubah syair. Luluhlah hati seisi kota. Kau akan dibangga. Haa, luluh jualah hati si putri Muhallik,” cetusnya. Aku mangut.
“Ajari aku, Tuan,” pintaku setengah merengek.
Kulihat air mukanya keruh. Menatapku lama. Nanar. Lalu, mencair. Jernih. Bersih. Aku pun semringah. Lelaki tua itu mengulum tawanya.

***
SECARIK perkamen kuterima. Ditulisi tinta hitam pekat beraroma pahit. Itu tidak menarik perhatianku. Selain aksara yang berjejer di sana.
Jikalaulah mentari hendak membelah remang-remang mimpi yang mengatup. Adalah hal baik bilamana kupinang dahulu bundarnya purnama. Biar malam kepanjangan. Agar mimpi berkelanjutan.
Siapa gerangan yang menuliskannya? Indah nian. Apa hal yang menjadikanku sebagai penerima syair ini? Ah, sibuklah diriku menerka-nerka.
Di tepi bawah, kudapati sebaris kata. Agaknya sebuah nama. Musafir. Kembali kurekareka. Nun, di ceruk dadaku. Ada selubung baru. Terdengar simponi merdu di dalamnya. Walau ragu. Kugamit perkamen, kusisipkan dalam lipatan baju. Berlalu.

***
ADALAH hal mesti bagiku untuk menemuinya. Segera. Kabarnya ia telah tiba. Sesegera mungkin kujumpai. Ya, benar. Ia tentu tak akan berlamalama. Sebaiknya kususul ia. Di pasar. Ya, benar. Mestinya ia melewati pasar. Tentu. Ya, aku yakin betul akan hal itu.
Mendengar kehadiran Al A’sya, beramairamailah seisi kota memadati jalan. Menyambut idola. Sekadar bertatapan, atau berjabatan atau sekadar turut serta bersoraksorai belaka. Hanya aku yang berniat lain.
Al A’sya terkesiap, mendapati seorang perempuan paruh baya menghadang jalannya. Ia telah melewati pasar. Kerumunan sudah tak membuntutinya lagi. Al A’sya pun meloncat turun dari tunggangannya. Hendak mengetahui niat perempuan tua di hadapannya.
“Bersediakah Tuan bilamana singgah sejenak ke gubuk kami? Ada jamuan yang sudah dipersiapkan,” terangku sedikit memohon.
“Apa gerangan yang membuatmu menjamuku?”
“Ah tidak, Tuan. Hanya saja, sudah lama niat ini kuurungkan.”
Kulihat ia menempelkan empu jari dan telunjuk di dagu. Seolah menimbang ragu. Sekejap ia menaiki unta. Gusar sedikit dadaku.
“Baiklah, aku akan datang. Nanti malam. Tiadalah patut menolak untung,” ujarnya sembari mengayunkan temali unta. Beranjak. Bukan kepalang berbunganya hatiku. Gegas kupulang. Menyiapkan jamuan. Juga mengabarkan suamiku untuk segera pulang.
Al A’sya akan melakukannya. Aku yakin betul. Esok seisi Mekah akan riuh. Aku terkekeh sendiri.

***
TIDAK hanya aku. Kedua kakakku pun turut terkesiap. Tak percaya. Al A’sya datang bertandang ke gubuk kecil kami yang teronggok di atas bukit.
Agaknya Ibu tahu alasannya. Itu tidak menarik sama sekali. Selain unta milik kami satusatunya mesti disembelih demi menjamu si tamu. Idola Mekah katanya. Meski kami menggerutu. Ibu tetap enggan bicara.
“Esok, Kau akan tahu,” bisik Ibu.
Sedangkan Al A’sya, agaknya juga turut bertanya-tanya. Perihal apa yang diinginkan keluarga Muhallik darinya. Perihal kedermawanan keluarga miskin itu. Unta jantan, harta paling berharga milik mereka rela disuguhkan sebagai jamuan.
Alangkah dermawannya, bisik batin Al A’sya.

***
SEISI kota riuh. Entah apa gerangan. Al A’sya melantunkan syair kemarin. Di kerumunan kabilah. Begitu kabarnya. Tidak tertarik sama sekali, gumamku.
“Syair itu tentang Muhallik dan kedermawanannya.” Telingaku berdiri mendengarkan ocehan majikanku.
“Seisi kota memperbincangkan hal serupa.”
“Bila Al A’sya saja berela hati menggubah syair tentang keluarga kecil itu, Kau tentu tahu betul apa dampaknya.”
Aku bungkam.
“Semua bujang sibuk. Berebut meminang ketiga putri Muhallik. Dari peladang hingga pedagang. Juga bangsawan, Anak muda.”
Mataku terbelalak. Darahku mendidih. Yang benar saja, bisikku.
Al A’sya, penyair Arab Jahiliyah yang sering kudapati namanya di berbagai buku kesusasteraan Arab, kini membuat perkara. Denganku. Benar. Perkara cinta.
“Aku tidak dapat tidur di malam hari, bukan karena sakit ataupun cinta.”
“Sungguh banyak mata yang melihat api yang menyala di atas bukit itu.”
“Api itu dinyalakan untuk menghangatkan tubuh kedua orang yang sedang kedinginan di malam itu dan di tempat itulah Muhallik dan kedermawanannya sedang bermalam.”
“Di malam yang gelap itu keduanya saling berjanji untuk tetap bersatu.”
“Kamu lihat kedermawanan di wajahnya seperti pedang yang berkilauan.”
“Kedua tangannya selalu benar, yang satu untuk membinasakan sedang yang lain untuk menderma.”[1]
Sayup kudengar syair itu dilantunkan. Dua biji mataku bergasing. Kepalaku linglung. Pusing. Perutku diadukaduk. Tubuhku limbung. Tersungkur. Memamah pepasiran. Tiada kutahu bising di sekitarku. Umpama dengingan ribuan nyamuk mendengung di liang telinga. Seketika buram. Pekat. Lesap. Lenyap dalam sekejap.
Kudapati diriku berbungkus kain sarung. Terjaga oleh lengkingan ketel mendesing. Dengan buku Sejarah Kesusasteraan Arab bergelung di tanganku. Matahari sudah menggeliat. Bangun dari rehat. Nun, di depan rumah susun tempat naunganku, jalanan Jakarta mulai padat. Dengan rambut kusut, kuingat-ingat hal semalam.
Jikalaulah mentari hendak membelah remang-remang mimpi yang mengatup. Adalah hal baik bilamana kupinang dahulu bundarnya purnama. Biar malam kepanjangan. Agar mimpi berkelanjutan.
Mimpi semalam masih terkenang.(*)
 Surau Balai, 2013

[1] Ini merupakan syair yang dilantunkan oleh Al A’sya (penyair Arab terkemuka) untuk mengabadikan kedermawanan Muhallik dan isterinya. Riwayat ini banyak dijelaskan dalam buku-buku kesusasteraan Arab Jahiliyah.

Yusrina Sri Oktaviani. Sedang kuliah di IAIN Imam Bonjol Padang pada Fakultas Tarbiyah dengan jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA). Menulis cerpen, puisi, novel, artikel dan opini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar