Minggu, 15 Juni 2014

Puisi-puisi: Sonny H. Sayangbati

Hujan dan Hujan Lagi


Senandung rindu itu bernama hujan
tak kenal saat,
ia membasahi ladang dengan rinai tak bertepi
terus mengguyur dengan derasnya
seolah-olah tak ada tempat penampung

Tidak!
Aku hanya bisa memberi
dengan kelimpahan

Daun-daun berkabut
menyerap cairku sampai yang terdalam
karena di situlah rumahku
Jaga Blengko, 30-01-2014


Dua Pohon


“Pohon yang besarnya sepelukan,
tumbuh dari benih yang kecil saja. 
Menara setinggi sembilan tingkat,
dibangun mulai dari seonggok tanah. 
Perjalanan seribu li,
dimulai dari satu langkah.”

― Laozi



Dari benih tinggi tiga puluh centimeter aku telah melihatmu tumbuh di dua sisi kiri dan kanan, aku yakin burunglah yang membawamu ke sana. Setiap tiba musim bertelur angin musim membawa mereka hinggap dan memenuhi hamparan air yang penuh dengan ikan-ikan bersisik terang yang pasrah di santap sang pelikan.

Beratahun-tahun lamanya siklus itu tidak berubah dan aku tetap setia duduk dan menikmati fenomena alam ini, entahlah sampai berapa tahun lagi burung-burung pelikan dan ikan-ikan saling menghidupi dan bermain, hampir sepanjang musim di bumi ini, semua jenis burung hadir, ada yang hanya mendarat sebentar lalu pergi, dan apa juga yang hanya seminggu saja lalu melanjutkan perjalanan mereka ke benua lainnya.

Ini adalah tanah, dan danau persinggahan yang hanya ditandai oleh kedua pohon yang dengan setia berdiri teguh acuh tak acuh, puluhan tahun pohon danau ini menjadi saksi kisah hidup manusia yang bercinta dan menangis sambil bersandar punggung di pohon, sudah banyak kekasih yang menikah dan memiliki keturunan dari generasi ke generasi.

Seperti sebuah pohon Tamariska, di mana Ibrahim menanam pohon sejarah bangsa-bangsa di gurun kering gersang. Ya, sebuah pohon kesaksian yang tak pernah mengeluh dan menangis, hanya diam meneduhkan setiap orang yang singgah ataupun sekedar melepas lelah.

Berbahagialah engkau pohon yang hidup di pinggir danau, di mana setiap makhluk terbang selalu merindukanmu untuk singgah ataupun sekedar mencium atau melihatmu, engkaupun menjadi tempat semua orang seisi kota untuk bertemu dan hanya sekedar berbicara, entah itu sebuah rahasia ataupun hanyalah sebah kata yang harus didengar oleh telinga, entahlah.

Dua pohon, mengapa engkau hanya dua tidak satu atau tiga, berbahagaialah engkau, sebab siapapun yang memandangmu dari kejauhan ataupun dekat, sesungguhnya engkau sepasang kekasih abadi. 
Jaga Blengko, 13-3-14 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar