Senin, 02 Juni 2014

Cerpen: Anam Khoirul Anam



Elegi Dua Hati



SUATU hari, saat matahari telah setinggi lima tombak, aku duduk di atas batu berukuran cukup besar. Di atas batu itu aku tercenung sembari menatap beberapa bunga yang tampak layu karena kekeringan. Meski demikian adanya namun aku masih bisa merasakan aroma wangi yang ia tebarkan bersama embusan lembut semilir angin yang datang menerpaku.
Kerinduan menghampiriku bersama semilir angin, lalu berucap lirih dalam notasi merdunya, “Bila pertemuan cinta telah berada di hadapmu, apa yang akan kamu lakukan?”
“Akan aku sampaikan salam cinta dan rinduku, lalu biarkan jiwaku merengkuh erat tiap helai nafas yang diembuskan Kekasihku,” sahutku.
Lalu kudengar dari dalam jiwaku bisikan lirih:
Jika cinta telah memilih dan ketika cinta telah menjatuhkan pilihannya, apa yang bisa kita lakukan selain menerima-Nya dengan ketulusikhlasan serta menjalaninya dengan sukacita, meski tak jarang waktu menguji dengan nestapa yang menjadikan jiwa berlinang air mata? Jika sekutum bunga kutaruh dalam genggaman tanganmu mungkin ia akan iri melihat dan merasakan getar hati yang berbunga-bunga karena cinta yang sedemikian agung ini.
Di antara semak bunga yang mulai meranggas tergerus musim kemarau panjang, aku melihat ada sekuntum bunga yang masih tampak segar bugar walau yang lainnya terlihat layu; bahkan ada beberapa yang sudah patah namun masih menggantung pada tangkainya. Dan ada pula di antaranya yang sudah tumbang di atas tanah tandus dan kering.
Tangan-tangan sunyi menghinggap di atas kegalauan hati dan mencengkeram ritme detak jantung hingga resah hati semakin tak terperi. Udara panas yang dibawa embus angin memanggil dahaga yang bersembunyi dalam keliman kerongkongan.
“Bagaimana caranya kamu bisa bertahan di musim yang ganas ini?” ucapku pada kelopak bunga itu sembari menciumnya. “Bukankah pada musim semacam ini tidak banyak yang mampu bertahan? Jika tak layu, pastilah akan tumbang dan mati kekeringan? Lalu, apa yang membuatmu bisa bertahan hingga sekarang; bahkan kamu sama sekali tak merasa terusik dengan datangnya musim kali ini,” lanjutku tanpa melepaskan ciumanku di kelopaknya.
Kudengar bunga itu berkata padaku, tampak ia bergoyang-goyang diterpa laju angin, “Kekuatan cintalah yang membuatku bisa seperti ini dan membuatku bisa bertahan di segala musim.”
Aku tertegun bercampur kagum atas apa yang kusaksikan serta dengar kala itu.
“Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Sudah beberapa hari ini aku melihatmu tampak gelisah dan berwajah murung?” tanya bunga itu.
“Apakah kamu memperhatikanku selama ini?” tanyaku dengan perasaan terkejut.
Ia pun menjawab, “Ya. Aku memperhatikanmu semenjak kamu datang dan duduk di atas batu itu.”
Mendengar hal itu wajahku serasa meranum oleh karena menahan rasa malu tak terkira.
“Jika kamu ingin menceritakan masalahmu, dengan senang hati aku akan menjadi pendengar yang baik untukmu.”
Tanpa rasa canggung aku pun mengisahkan tentang apa yang sudah terjadi padaku. Tak hanya berkisah tentang kehidupan pribadiku, tapi aku juga mengisahkan romantika cinta yang kini sedang melanda diriku.
“Jika kamu ingin mengenali ragam bunga, hal pertama yang harus kamu lakukan adalah kamu harus tahu lebih dulu aroma harum yang ditimbulkan, setelah itu barulah rupa warnanya. Mustahil kamu mengatakan bahwa aroma mawar adalah aroma yang sejatinya adalah aroma milik bunga melati,” kata bunga itu dengan ungkapan yang belum bisa kumengerti dan pahami.
“Bisakah kamu jelaskan padaku perihal itu?” pintaku dengan mimik heran.
“Sekarang pungut bunga itu!” pintanya sembari mengarahkan tangkainya pada sekerumun bunga melati.
Aku memetiknya walau dengan penuh gumpalan tanda tanya di pikiranku.
“Ciumlah satu per satu kelopak di antara kami secara bergantian! Lalu rasakan dan resapi aroma yang ada di antara kami!”
Aku pun mengikuti apa yang ia perintahkan padaku. “Apa yang kamu rasakan dan dapatkan dari kami? Adakah di antara kami ada kesamaan atau perbedaan?” ujarnya.
“Secara fisik tentu di antara kami beda, tapi adakah kesamaan atau perbedaan yang kamu temukan dari kami?”
“Aroma di antara kalian itulah yang aku temukan,” jawabku tanpa memberi penjelasan lebih rinci.
“Kami memang dibedakan pada aroma serta bentuk fisik, namun ada hal lain yang perlu kamu tahu dari keberadaan kami.”
“Itulah yang aku tangkap dari kisahmu tadi. Dan apa yang aku katakan tadi adalah gambaran dari masalah yang sedang kamu hadapi saat ini.”
Aku mengerutkan jidatku. Aku semakin dibuat tak mengerti dan kebingungan.
“Memang tak mudah menentukan satu pilihan di antara dua hati yang benar-benar saling cinta mencintai. Jika kita memutuskan untuk memilih salah satu di antara keduanya pastilah akan ada yang terluka dan tersakiti,” terangnya.
“Mungkin kamu sudah mengerti dengan kiasan yang aku berikan di awal tadi. Kedua orang yang mencintaimu secara kodratnya adalah sama, tapi di antara mereka pasti memiliki perbedaan serta kesamaan yang mungkin bisa kamu jadikan pertimbangan untuk mengambil sebuah keputusan.”
“Dalam hal cinta mencintai memang tidak melihat sisi persamaan atau perbedaan, sebab cinta lepas dan tak melihat dari masalah semacam itu. Tapi kamu harus benar-benar jeli ketika memutuskan sebuah pilihan untuk menjadikan seseorang sebagai pasangan hidupmu. Tentunya kamu pasti tak ingin menyesal di kemudian hari atas kekeliruan keputusanmu yang tak tepat itu.”
Aku merasakan kini diriku tengah berdiri di tepi sebuah ngarai yang begitu curam. Dilema cinta yang kini menghimpitku semakin sesakkan rongga dada. Jujur aku harus akui bahwa diriku yang bersalah karena membiarkan rasa itu bermain dalam roman cinta yang sudah kusemai di taman hatinya.
Kini aku harus dihadapkan pada pilihan antara dua hati yang kini sama-sama mencintaiku. Aku harus dihadapkan pada sebuah pilihan yang begitu sulit dan terasa pelik. Buah simalakama telah ada di genggamanku. Tentunya aku harus menelan rasa pahit tak terkira bila harus memakan buah itu. Namun alangkah sayang rasanya bila aku harus membuangnya, sebab aku mendapatkan buah itu harus dengan cara melintasi hamparan samudera dan memetiknya dari gunung yang bagitu terjal.
“Keberadaan kami adalah salah satu di antara simbol keindahan serta mediasi untuk menyampaikan suatu isyarat atas apa yang dirasakan hati pada pihak lain. Tak hanya luap kegembiraan, suka cita, duka lara, atau sebagai hiasan semata. Dan kami adalah simbol kelembutan serta kecantikan.”
Matahari beredar tepat di atas kepala. Teriknya terasa begitu menyengat hingga terasa membakar kulitku. Kulihat fatamurgana meliuk-liuk di hamparan sahara. Badai kecil berpusar-pusar terbangkan dedaunan kering lalu menghempaskannya di atas pasir berkerikil.
“Apa yang perlu kujelaskan terhadap mereka yang sama-sama sedang dilanda cinta? Tentunya sebuah penjelasan tentang suatu perihal yang sama tidak membutuhkan adanya penjelasan, melainkan adanya satu kesatuan rasa walau dengan pengamatan berbeda,” kilahnya.
“Apakah mereka yang sedang mabuk kepayang akan mampu menjawab dengan jawaban sebenarnya perihal apa yang dipertanyakan padanya dari mereka yang sama-sama mabuk pula?”
“Lalu, apa hubungannya pertanyaanku dengan kita?”
“Bukankah saat ini kita sama-sama sedang jatuh cinta? Bukankah dalam jiwa kita sama-sama sedang dihinggapi cinta? Jadi, apakah mereka yang sama-sama sedang jatuh cinta akan mampu mengungkapkan apa yang sedang dirasakan? Hanya mereka yang sedang jatuh cinta itulah yang bisa merasakan apa yang sedang dirasakan, bukan yang lain. Walau hal itu juga sulit untuk dijelaskan dengan pengungkapan sederhana.”
Ucapku hanya tercegat di kerongkongan.
Tiba-tiba seraut wajah yang beberapa pekan ini menghiasi hariku hadir penuhi benakku. “Benarkah bahwa aku saat ini telah jatuh cinta padanya?” gumamku. “Sungguh aku tak mengerti dengan segala apa yang sedang kurasa kini.”
“Mendekatlah padaku!” pintanya.
“Mengapa engkau ragu padaku? Bukankah saat ini kita adalah sama, dalam suasana jiwa yang sama. Bukankah aku adalah isyarat hatimu untuk kekasihmu?” lanjutnya, menegaskan.
Mendengar itu wajahku berubah berbinar-binar bercampur malu. “Sekarang sunting aku, pungutlah aku, dan berikan aku pada kekasihmu. Dan aku akan menjadi isyarat bagi cinta kalian berdua,” terangnya.
Dengan separuh keberanian, aku pun segera bergegas menuju tanah lapang; dimana biasanya kami saling jumpa.
Setiba di tanah lapang; dimana dulu kami saling bertemu, kulihat kekasihku sedang duduk termenung menatap matahari yang ingin kembali ke peraduan.
Kudengar keheningan menawarkan secangkir senyuman lalu memintaku untuk bersulang dengan kekasihku. “Kita sudah berjalan begitu jauh hingga tanpa sadar bahwa kita sudah melewati banyak rintangan yang menghadang. Dan kita seolah mengabaikan rasa letih dan lelah yang mendera di antara tetes keringat yang mengalir pada tubuh kita.” ucapku sembari memegang setangkai mawar dan mengangkatnya ke udara. Mawar di genggamanku terayun-ayun oleh embusan angin senja.
Dengan nada lemah kekasihku menyahut, “Dan kita tak tahu apakah kita akan menemukan kebun anggur yang kita impikan, atau justru kita akan mendapati tanah gersang setelah melewati jalan terjal bahkan sangat berliku untuk kita tempuh dengan kedua kaki telanjang kita.”
“Perjalanan cinta kita ini begitu banyak menguras sumber mata air yang mengalir dari jiwa kita. Kita harus menyirami gandum dan pepadian sebagai bekal dalam perjalanan kita menuju kebun anggur yang kita impikan.”
“Kita tak tahu mengapa harus memilih kebun anggur daripada buah lainnya sebagai tujuan dari perjalanan cinta kita ini. Sedangkan negeri cinta begitu subur dan kaya dengan beragam tanaman. Kita hanya bersepakat dalam satu filosofi bahwa buah anggur bisa membuat kita mabuk kepayang dalam cinta. Kadang ia terasa manis di antara rasa asam yang kita kenyam. Dan kadang ia terasa pahit jika kita terlalu berlebihan meminumnya, bahkan kita bisa mabuk karenanya. Bukankah rasa manis yang dikecap secara berlebihan akan menjadi pahit rasanya?” terang kekasihku.
Warna merah saga menyisakan gurat-gurat awan di ujung barat. Ia seakan melukiskan apa yang sedang kami rasakan ketika itu. Burung-burung yang berterbangan seraya kembali ke sarang. Dan kelelawar justru sebaliknya, ia mulai berkeliaran mencari buah-buahan masak untuk dijadikan makan malam. Dan kami menyaksikan diorama itu dalam suasana hati yang teduh.
“Aku melihatmu sebagai sosok dewi yang tegar dan tangguh. Aku melihatmu sebagai perempuan yang penuh kelembutan. Aku sama sekali tak pernah ingin memikirkan apakah kamu benar-benar mengerti tentang diriku, mengerti tentang semua yang aku pikirkan dan juga apa yang aku rasakan. Aku hanya memikirkan tentang bagaimana caranya aku bisa mencintaimu secara baik meski kusadari bahwa cintaku belum sempurna. Aku juga tak perduli apakah tubuhku masih mampu bertahan lebih dari waktu mencintaimu dan juga memikirkanmu, sebab yang ada dalam pikiranku hanya ingin mencintaimu. Aku juga tak ingin diperlakukan secara baik atau diperlakukan seperti orang-orang terhormat, aku hanya ingin mencintaimu. Aku memang tak seperti keinginan-keinginanmu, karena aku sadar bahwa aku masih belum bisa lepas dari ego kasarku. Tapi aku lebih memikirkan bagaimana harusnya mencintaimu dan memperlakukan dirimu secara baik dan mulia. Aku memang tak memaksakan diri dalam hal cinta mencintai, sebab aku sadar cinta sama sekali tumbuh bukan atas paksaan. Cukuplah kini aku mencintaimu, sebab cintaku akan semakin kuat melebihi apa yang kamu tahu tentang diriku.”
“Sungguh beruntungnya aku bisa mencintaimu dan dicintai olehmu. Maafkan aku bila selama ini tak sempurna memahamimu,” ucap kekasihku sembari menyandarkan kepalanya di bahuku. Aku merasakan ada tetes air mata jatuh berlinang di pundakku.
“Usap airmatamu! Jangan bersedih sebab cinta menunggu kita dengan wajah tersenyum. Kita harus datang padanya dengan wajah berseri-seri dan penuh senyum bahagia. Sebab Cinta menginginkan kita bahagia.”
“Jika kelak kita ditakdirkan bersatu dalam ikatan pernikahan, apakah kita mampu menghadapi semua pergolakan ini?” tanya kekasihku dengan nada bimbang. Kulihat pada pelupuk matanya sebuah harapan.
“Apa yang kita pikirkan sebelum kita menikah akan jauh berbeda dengan kenyataan yang harus kita hadapi setelah kita menikah,” jawabku. “Tak hanya dituntut untuk bisa hidup mandiri, tapi terkadang kita harus menghadapi banyak hal tak terduga. Bahkan kita harus mendapat perlakuan tak menyenangkan dari kedua belah pihak keluarga kita masing-masing. Mungkin kita akan mendapat kesan diremehkan dan banyak hal lainnya yang akan mengusik kekuatan cinta yang telah kita ikat dengan ikrar suci pernikahan. Maka dari itu kita harus yakin pada kekuatan cinta kita, sebab jika kita terlalu banyak mendengar omongan orang, tak hanya kita yang hancur, kehidupan rumah tangga kita juga akan turut berantakan,” terangku sembari mencium keningnya dan menyematkan kuntum mawar di telinganya..
“Apakah dengan menikah lantas urusan percintaan antara kita, tentang semua pertanyaan, mimpi dan harapan kita pada cinta sudah selesai?” tanyaku. “Tidak! Sama sekali urusan kita belum selesai. Bisa jadi pernikahan adalah awal dari perjalanan cinta antara kita. Jika kamu berpikir bahwa setelah menikah semuanya selesai, maka kamu adalah salah satu di antara pecundang yang mengatasnamakan cinta dan agama. Kamu sepenuh-penuhnya belum mengerti arti cinta dan pernikahan.”
“Cinta dan pernikahan bukan sekedar ikrar atau janji yang diaklamasikan secara resmi di hadapan khalayak. Cinta dan pernikahan juga bukan sekedar ritus sakral yang hanya cukup dijaga atau dipertahankan. Tapi cinta dan pernikahan adalah menyatukan seluruh jiwa, raga, keseluruhan rasa lahir dan batin, serta pikiran untuk merajut benang-benang kehidupan sebagai perisai dari segala bentuk kejahatan orang lain atau dari diri sendiri. Cinta dan pernikahan tak sekedar menghalalkan apa yang haram, jika hanya menghalalkan apa yang haram maka cinta dan pernikahan bukanlah ritus yang disakralkan, tapi lebih pada bermain-main atas nama cinta dan agama dalam urusan cinta serta percintaan syahwati semata.”
Mendengar penuturanku, ia hanya termangu dan menatapku dalam sorot mata kekaguman. “Inilah yang membuatku semakin yakin terhadapmu atas cinta yang kamu berikan padaku. Aku tak sekedar menemukan cinta, tapi aku menemukan apa yang tak pernah aku temukan dari pencarianku selama ini dalam menjalani hidup dan cinta.”
“Sekarang mari kita persiapkan diri dengan perisai-perisai sebagai tameng yang akan kita pergunakan untuk melindungi jiwa dan raga kita dari amuk badai. Selain itu mungkin kita bisa pergunakan untuk mencegah kejahatan yang tidak kita ketahui dari segala arah.”
Ia tersenyum padaku dan semakin mengeratkan genggaman tangannya padaku.
Senja mulai meredup dan kami menutup perjumpaan kami dengan setitik cium di keningnya. Aku melihat langkah kakinya begitu berat. Meski ia tersenyum sebelum berlalu dari hadapanku, namun ada setitik rasa sedih yang akan merasuki jiwa-jiwa kami yang dirundung sepi.
Kami adalah burung-burung yang melintasi ruang, waktu, dan juga musim. Kami hidup dalam cungkup bumi yang sedemikian luas. Kami adalah kehidupan yang hidup dalam hati para pemimpi. Kami terbang dari harapan-harapan. Kami dibesarkan dari imaji-imaji. Dan kami dilahirkan dari perkawinan semesta. Itulah diri kami.[]
Yogyakarta, 25 Desember 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar